Sederhana tapi nyumbang 15 M



Sederhana tapi nyumbang 15 M
Elinor Sauerwein dikenal hidup sangat sederhana. Ia tinggal di Modesto, California. Ia tak pernah tertarik untuk makan di restoran, mengoleksi barang elektronik, memasang TV kabel, dan sejenisnya. Baginya uangnya lebih baik ia tabung untuk mengantisipasi keadaan buruk.
Sejak suaminya meninggal tahun 1994 ia hidup sendiri. Anak satu-satunya sudah meninggal tahun 1988 dan kedua cucunya tinggal di New York. Meski sudah tua ia tetap mencuci pakaian sendiri dan tak punya pengering pakaian seperti umumnya dimiliki orang Amerika. Ia menjemur pakaian di halaman belakang menggunakan tali jemuran yang dibentang. Kalau cat rumah sudah pudar ia mengecatnya sendiri. Bahkan saat usianya mencapai 92 tahun ia masih mengecat rumah.

Hidup sederhana memang pilihannya. Pernah suatu kali ia berbicara pada tetangganya bahwa ia menabung untuk keperluan hidupnya. Pernah juga menyebutkan kalau ia ingin menyumbangkan uangnya untuk yayasan bernama The Salvation Army di Modesto, California. Meski para tetangga yakin ia punya tabungan namun tak memperkirakan berapa besarnya melihat kehidupannya yang sederhana.

***

Sewaktu muda, Elinor adalah guru. Ia datang ke sekolah mengendarai kuda. Sebelum belajar, ia tak mau murid-muridnya kedinginan sehingga ia menyalakan tungku pemanas di kelas. Sebelum pulang, kelasnya ia bersihkan sendiri. Seperti itulah kebiasaannya. Dan di sekolah itulah ia bertemu bakal suaminya, Harold Sauerwein. Mereka pun menikah tahun 1945.

Harold ternyata sama sederhananya seperti Elinor. Meski ia kemudian menjadi kontraktor dan berhasil membangun supermarket di Modesto, mereka tetap hidup sederhana. Rumahnya ia bangun sendiri, ukurannya tak besar dan hanya memiliki dua kamar tidur.

Suatu kali di tahun 1970-an Harold bertemu dengan John Bullock, seorang pialang. Mereka kemudian bersahabat. Suatu kali John memasang iklan di suatu koran tentang investasi surat utang jangka panjang. Entah bagaimana Harold tertarik menjadi salah satu investornya. Mulailah ia membeli surat utang itu dan John menjadi pengelolanya. Kalau sudah jatuh tempo, investasi itu ia tanamkan lagi, tanamkan lagi, dan seterusnya.

Menjelang Harold meninggal tahun 1994, ia menitipkan pesan pada John agar menjaga Elinor. Jika ia butuh uang kasih saja. Itu juga sudah diberitahukan Harold pada istrinya bahwa jika butuh uang untuk keperluan apa saja, tinggal bilang pada John.

***

Setelah Harold meninggal Elinor tak juga memanfaatkan uang itu untuk keperluan yang tidak penting. Hanya sekali menggunakannya ketika temannya mengajak berlibur ke Hawaii. Mereka naik pesawat kelas satu. Dan itulah sekali-sekalinya Elinor bertamasya seumur hidupnya.

Tahun 2010, Elinor meninggal dalam usia 96 tahun. Ia hanya menitipkan warisan pada John untuk dikasihkan pada kedua cucunya masing-masing US$5.000 dan ada satu lagi untuk seorang temannya dengan nilai yang sama. Sisanya diminta untuk disumbangkan ke The Salvation Army.

Michael Paugh, pengelola The Salvation Army Modesto mengaku kaget ketika dikasih tahu John Bullock tentang sumbangan itu pada bulan Desember tahun lalu. Paugh terkejut dengan jumlahnya karena tak disangka seseorang yang hidupnya sederhana bisa menyumbang sebanyak itu. Nilainya adalah US$1.731.533,91, atau sekitar Rp 15 miliar dalam kurs rupiah saat ini.

Besar sumbangan memang tak bisa diukur oleh kesederhanaan hidup seseorang. Orang sederhana yang tulus kerap memberi "kejutan" dengan jumlah sumbangan yang luar biasa.

*ABC News*

Popular posts from this blog

Cinta adalah anugerah Tuhan

Pertemuan Samudra Atlantik dan Mediterania

Monyet dan Angin